Senin, 11 Juni 2012

Resum_Agama Buddha Di Tionggok

Agama Buddha di India
  1. Masa Kekuasaan Raja Asoka
Raja Asoka di kensl sebagai pribadi yang santun, ia berhati lembut, ramah kepada rakyatnya, dan berbakti, setia pada agamanya agam yang di anutnya dan sangat mengasihi rakyatnya. Walaupun begitu, beliau terpaksa berperang demi ketentraman di Deccan dan menaklukan kerajaan Kalinga (Teluk Bengala). Setelah Raja Asoka mendengarbahwa dalam peperangan tersebut sekitar 100.000 orang Kalinga meninggal dan 150.000 ditawan, beliau sangat sedih dan bersumpah tidak akan mengangkat senjata lagi terhadap siapa pun untuk selamanya. Semakin lama semakin nampak keinginannya untuk mengikuti ajaran Buddha dan menjalankan segala ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari serta dalam pemerintahan. Ajaran Buddha pada masa itu mendapat kedudukan sebagai agama kerajaan. Atas Titah Raja Asoka, sekitar 48.000 buah Thupa (Stupa) didirikan. Yang penting dalam sejarah pemerintahan Raja Asoka dan yang membuat namanya terkenal sampai sekarang adalah tulisan-tulisan (Prasasti) yang di pahat pada dingding-dingding dan tiang-tiang batu (zuilen).
Masuknya Raja Asoka dalam Ajaran Budha
 Raja Asoka dengan resmi telah mengikuti ajaran Buddha, akan tetapi rakyat pada umumnya masih setia kepada ajaran Hindu, yang sudah berakar teguh dalam masyarakat sejak zaman purba. Para Brahmana masih memberikan pengaruh yang besar kepada rakyat dalam keadaan demikian, Raja Asoka mengeluarkan amanat supaya di antara agama-agama dan aliran-aliran haruslah ada ikatan persaudaraan dan perdamaian, setiap agama bebas melakukan kebaktian dan mendapatkan perlindungan yang sama dari raja.


Kemunduran Agama Buddha di India
Buddha mengalami kemunduran, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.  Pada abad ketujuh Masehi, kemerosatan tersebut semakin meluas di India, antara lain disebabkan oleh serangan bangsa Hun Putih dari utara yang banyak menghancurkan pusat-pusat peribadatan agama Buddha. Usaha kemunduran tersebut juga ada, seperti yang dilakukan kaisar Harsya, namun kemunduran itu nampakya sudah tidak bisa di cegah lagi. Dapat diketahui bahwa jumlah Vihara semakin berkurang.
Agama Buddha di Tiongkok
Tidak ada yang mengetahui pasti kapan Agama Buddha masuk di tiongkok, namun dapat  diperkirakan masuk pada abad 1 M, tapi menurut tradisi ajaran Buddha di tiongkok di bawah oleh Bikkhu pada masa kerajaan Asoka. Ajaran Buddha sangat diterima pada masa dinasti Thang, karena dinasti ini sangat terbuka dan mau menerima kebudayaan-kebudayaan dari luar. Akan tetapi pada akhir masa dinasti Thang pengaruh dari luar dianggap membawa hal yang negative sehingga pengaruh dari luar pun dilarang termasuk agama Buddha dan kebudayaannya, hal ini dilakukann utnuk mendukung agama Toisme sebagai agama pribumi. Akan tetapi ada beberapa aliran agama Buddha yang tetap dapat bertahan di Tiongkok antara lain :
1.      Aliran Chan atau Dhyana :Aliran ini didirikan oleh Boddhirma, aliran ini sangat radikal terhadap kitab suci dan aliran ini bertujuan untuk memurnikan kembali ajaran agama Buddha sepeti dahulu, di jepang aliran ini dikenal dengan aliran Zen Buddhisme.
2.      Aliran Vinaya :Didirikan oleh Too Hsuan, aliran ini lebih menekankan pada pelaksanaan vinaya secara ketat.
3.      Aliran Ching-tu atau Tanah Putih :Aliran ini lebih menekankan kepada kitab Amithayadhana, menurut aliran ini dengan sering menyebut Amida atau Amitabha akan dapat menghilangkan kesedihan, lepas dari samsara dan mencapi surga. Ajaran aliran ini sangat sederhana sehingga dapat berkembang luas di masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate