Rabu, 13 Juni 2012

sangha, bhikku, friksi dengan UMAT AWAM, Berdana yg Cerdas! dan kasus pada Ex-Bhikku Sudhammacaro !

  sangha, bhikku, friksi dengan UMAT AWAM, Berdana yg Cerdas! dan kasus pada Ex-Bhikku Sudhammacaro !


Sekarang ini mulai banyak tulisan yang berupaya menggiring OPINI bahwa 1 orang Bhikkhu walaupun tidak tergabung dalam sangha manapun maka ia tetaplah BHIKKHU SANGHA dengan merujuk dan MEMIRIP-MIRIPKAN pada kondisi para bhikkhu Hutan namun hal itu TIDAKLAH BENAR. Mereka memiliki motif/tujuan tertentu melakukan hal tersebut dan salah satu motifnya adalah UANG!

Saṅgha

Arti dari sangha adalah KOMUNITAS, dalam terminologi Buddhis di bagi dua kelompok:
  • Savaka Sangha [savaka = murid], artinya kumpulan dari Ariya [dalam konteks ini adalah mereka yang telah mencapai tingkat kesucian 1 s/d 4], baik mereka itu berjubah ato tidak, gundul ato tidak dan manusia ato bukan. Mereka ini disebut para THERA.
  • Sammuti sangha [sammuti = tradisi, ungkapan yg populer] atau sangha konvensional [monastik], artinya kumpulan para Bhikkhu baik Putujhana [Orang biasa] ato bahkan Ariya.
Setelah seseorang dan/atau samanera [sekarang sebelum jadi bhikkhu harus menjadi samanera (calon Bhikku,samana:petapa+nera:anak) dulu] ditahbiskan [Upasampada] menjadi Bhikku maka Ia disebut sebagai NAVAKA. Ia WAJIB tergantung bersama gurunya [Achariya] atau pembimbingnya [Upajjhaya] selama 5 tahun [NISSAYA], setelah melewati tahun ke-5 Ia disebut sebagai NISSAYA-NAVAKA atau bhikku yang mandiri. Tradisi ke-Bhikkhu-an di Thailand, terdapat sebutan bagi mereka yang telah memiliki masa kebhikkhuan >dari 10 tahun, yaitu Thera.

Pengertian thera ada 3, yaitu:
  • Tua [contoh Romo Cunda Thera, artinya Romo Cunda yang sudah sepuh]
  • Para Ariya [yg telah mencapai tingkat kesucian ke-1 s.d 4]
  • Menurut tradisi thailand [> tahun 1300 Masehi atau mungkin istilah ini baru ada di 178 tahunan (>thn 1833), yaitu ketika berkembangnya aliran Dhammayutikka], mereka yang telah melewati masa vassa 10 tahun.
Di Thailand, ada 2 aliran (nikaya) dari Theravada di Thailand, yaitu Dhammayutikka dan Mahanikaya namun demikian, system kemonastikannya [kebiaraannya] TETAP BERSATU di bawah 1 (satu) badan yaitu konsil para tetua. Raja-raja Thailand selalu merupakan dan menjadi Pelindung Sangha. Negara membuat perundangan bahwa Sangha dapat mengatur dirinya sendiri dalam struktur yang sentralisasi [terpusat], Ketuanya di angkat oleh raja dan dinamakan Sangharaja. Perbedaan diantara ke-2 aliran ini sangat kecil, diantaranya adalah penangan disiplin dan cara pemakaian jubah, selain itu mereka menggunakan DOKTRIN, mengikuti 227 aturan vinaya, sebagai Patimomkha vinaya Pitaka.

Pengaruh Dhammayut di Indonesia adalah melalui Sangharaja Thailand, yaitu Somdet Phra Nyanasamvara [Di angkat tahun 1989 s.d sekarang], dari aliran Dhammayuttika, yang di tahun 1970 menahbiskan banyak anak negeri menjadi Bhikkhu. 5 Bhikkhu di antaranya pada tanggal, 23 Oktober 1976, mendirikan Sangha theravada Indonesia.

Bhikkhu sangha selalu bicara dengan kalimat KUMPULAN yang berjumlah > dari 1 orang atau jika Ia mendapat PERINTAH dari KOMUNITAS.

Di permulaan penyebaran ajaran, penerimaan seseorang menjadi seorang Bhikkhu, Sang Buddha lakukan dengan kata, "Ehi Bhikkhu" (artinya: Mari, Bhikkhu), yaitu pada 5 orang petama, Kemudian sangha menjadi terbentuk dan penerimaan dengan cara itu berlanjut hingga jumlah Bhikkhu menjadi 61 orang. Setelah itu, sang Buddha meminta mereka untuk menyebarkan Dhamma ke segala penjuru [ Vin.I.11.1] sehingga berdasarkan kejadian ini, SEMUA BHIKKHU yang sedang dalam penugasan komunitas walaupun hanya 1 (satu) orang BHIKKHUpun maka Ia tetap seorang BHIKKHU SANGHA.

Menyebarkan 61 orang Bhikkhu ini, menyebabkan makin banyak orang berniat menjadi Pabhajja [meninggalkan keduniawian] dan ingin di upasampada [tahbiskan] oleh sang Buddha. kejadian ini melelahkan para Bhikkhu dan calon Bhikkhu, sehingga Sang Buddha memperkenankan para Bhikkhu untuk menerima calon Bhikkhu dengan cara "Tisaranagamanupasampada" sebanyak 3x pengucapan [ Vin.I.12]

Semakin lama kemudian, banyak orang yang menjadi Bhikkhu. Sang Buddha, dalam pandangannya untuk meneguhkan fondasi Buddha sasana [ajaran Buddha] agar memberikan manfaat pada masyarakat yang berminat dan berniat pada Buddha, memperkenankan Sangha mengontrol komunitasnya, misalnya dalam penunjukan individu Bhikkhu tertentu sebagai upajjaya [vin.1.25], membuat pengaturan lanjutan penerimaan calon bhikkhu dengan cara natti [mengumumkan], oleh beberapa Bhikkhu yang dianggap kompeten [Ñatti-catutthakamma-upasampada]. Dengan demikian, Sangha tidak saja berarti kumpulan Bhikkhu seperti yang kebanyakan orang maksudkan namun juga bhikkhu-bhikkhu yang mendapat tugas tertentu berdasarkan quorum diantara anggota-anggotanya.

Sangha biasanya beranggota 5 orang [merujuk pada 2 hal, yaitu 5 petapa sebagai sangha pertama dan jumlah minimum utk keperluan upasampada], namun demikian banyak fungsi kebhikkuan memerlukan cukup dengan 4 Bhikkhu.

So, Ketika Ia mendapat penugasan komunitas maka Ia adalah BHIKKHU SANGHA namun jika tidak maka Ia hanyalah seorang bhikkhu partikelir.

Jaman ini, terdapat juga Bhikkhu-Bhikkhu yang tidak bergabung dalam komunitas sangha. Terdapat beberapa alasan mengapa seorang Bhikkhu tidak tergabung, diantaranya adalah:
  • Bhikkhu tersebut TERLALU TINGGI HATI, sehingga TIDAK MAMPU merendahkan dirinya sendiri bergabung bersama sangha.
  • Tempat dia saat ini TIDAK ADA persaudaraan atau komunitas para Bhikku
  • Aliran yg dianutnya memiliki corak aturan [vinaya], vatta [penugasan] yang lain sehingga tidak sesuai dengan patimokha,VINAYA dan vatta yang sedang dijalankannya.
  • Bhikkhu ini mempunyai watak dan kebiasaan melanggar Vinaya sehingga dengan tidak bergabung, maka tidak akan ada hukuman lunak dan keras atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya
Perlu khalayak pikirkan, bahwa sejak dari jaman Sang Buddha hingga sekarang, mereka-mereka yang tergabung dalam ke-sangha-an masih banyak yang tidak mematuhi Vinaya dan bahkan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji, maka apalagi dengan mereka yang tidak tergabung!

Uposatha
Sang Buddha telah memberikan izin kepada sangha untuk melakukan uposatha sendiri. Uposatha artinya kepatuhan kepada Sila.

Dalam pertemuan suatu kelompok bhikkhu [sangha, > 4 bhikkhu], seorang bhikkhu akan membacakan peraturan latihan [Patimokkha]. Jika 2 - 3 orang Bhikkhu mereka disebut gana (grup). Mereka dibolehkan memberitahukan satu sama lain tentang “kemurnian”. jika hanya 1 Bhikkhu ia disebut puggala (seorang) dan harus membuat addhitthana (tekad) sendiri.

Vassa
Masa Vassa adalah saat para bhikkhu berdiam di suatu tempat tertentu sampai hari Pavarana (3 bulanan, Pavarana adalah upacara pengakhiran vassa, gantinya uposatha bulan purnama Katthika,bisanya dilakukan sangha pd tanggal 15 [atau dapat ditunda dua minggu atau satu bulan, atau di hari2i lainnya]. Jumlah bhikkhu yang menghadiri pertemuan ≥ 4 Bhikkhu. Selama masa Vassa, dengan keadaan-keadaan tertentu, Bhikkhu boleh bepergian namun tidak boleh > dari 7 hari, jika tidak masa Vassanya dianggap GAGAL.

Penting untuk mengetahui seorang BHIKKHU bervassa atau tidak karena jika tidak maka apa haknya ber-Khatina?

Permberian Persembahan[DANA]
Ketika melakukan Berdana, maka Pemberian Dana dapat dilakukan kepada pribadi-pribadi atau kepada Sangha. Ringkasan Dakkhiṇāvibhanga Sutta, MN 142, Sutta Penjelasan tentang Persembahan, di bawah ini, menyajikan keuntungan dan perbedaan manfaat diantara keduanya.

Pemberian secara Pribadi kepada :
  1. Seorang SammaSamBuddha (Sudah ngga bisa)
  2. Seorang Paccekabuddha (Sudah ngga bisa)
  3. Seorang Arahat (Sudah ngga bisa)
  4. Seorang yang sedang berusaha menjadi Arahat (mungkin sudah ngga bisa)
  5. Seorang Anagami (mungkin sudah ngga bisa)
  6. Seorang yang sedang berusaha menjadi Anagami (mungkin sudah ngga bisa)
  7. Seorang Sakadagami (mungkin sudah ngga bisa)
  8. Seorang yang sedang berusaha menjadi Sakadagami (mungkin sudah ngga bisa)
  9. Seorang enterer-stream (Sotapanna) (mungkin sudah ngga bisa)
  10. Seorang yang sedang berusaha menjadi Sotapanna, diberikan dengan pikiran murni, dapat berbuah tidak terukur x lipat
  11. Seorang yang di luar ajaran Buddha namun bebas dari nafsu akan kenikmatan indria, diberikan dengan pikiran murni, dapat berbuah 100.000 x 100.000 lipat
  12. Seorang biasa yang bermoral, diberikan dengan pikiran murni, dapat berbuah 100.000x lipat
  13. Seorang biasa yang tidak bermoral,diberikan dengan pikiran murni, dapat berbuah 1000x lipat
  14. Kepada hewan, diberikan dengan pikiran murni, dapat berbuah 100x lipat
Tujuh Jenis Pemberian kepada Sangha (SanghikaDāna):
  1. Kepada Sangha Bhikkhu dan Bhikkhuni dipimpin oleh Buddha (sudah ngga bisa)
  2. Kepada Sangha Bhikkhu dan Bhikkhuni setelah Buddha mencapai Parinibnibbāna (sudah ngga bisa)
  3. Kepada Sangha bhikkhu
  4. Kepada Sangha dari bhikkhuni
  5. Seseorang memberikan dana dan mengatakan: "Tunjuklah untukku sejumlah tertentu para bhikkhu dan bhikkhunī dari Sangha”
  6. Seseorang memberikan dana dan mengatakan: "Tunjuklah untukku sejumlah tertentu para bhikkhu dari Sangha”
  7. Seseorang memberikan dana dan mengatakan: "Tunjuklah untukku sejumlah tertentu para bhikkhunī dari Sangha”.
Patut di ingat:
“Di masa depan, Ānanda, akan ada anggota-anggota kelompok yang, ‘berleher-kuning,’ tidak bermoral, dan berkarakter jahat. Orang-orang akan memberikan pemberian kepada orang-orang tidak bermoral itu demi Sangha. Bahkan meskipun begitu, Aku katakan, suatu persembahan yang diberikan kepada Sangha adalahTIDAK TERHITUNG dan TIDAK TERUKUR.

Dan Aku katakan bahwa TIDAK MUNGKIN suatu persembahan yang diberikan kepada seorang individu AKAN LEBIH berbuah daripada persembahan yang diberikan kepada Sangha.
    note:
    Bhikkhu leher kuning [kāsāva kaṇṭha] "Anggota-anggota kelompok” (gotrabhuno) adalah mereka yang menjadi bhikkhu hanya secara nama. Mereka bepergian dengan sehelai kain kuning yang diikatkan di leher atau di lengan mereka, dan masih menyokong anak dan istri mereka dengan melibatkan diri dalam perdagangan dan pertanian, dan sebagainya [Papañca Sūdanī, Majjhima Commentar(MA) 5:74 f]
Empat jenis pemurnian persembahan:
  1. Dimurnikan oleh si pemberi, bukan oleh si penerima.
  2. Dimurnikan oleh si penerima, bukan oleh si pemberi.
  3. Dimurnikan bukan oleh si pemberi juga bukan oleh si penerima.
  4. Dimurnikan si pemberi & si penerima akan berbuah sepenuhnya
Pemurnian adalah oleh orang yg bermoral, berkarakter baik.
    “Ketika seorang bermoral memberi kepada seorang yang tidak bermoral Suatu pemberian yang diperoleh dengan benar dengan penuh keyakinan, Meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Moralitas si pemberi memurnikan persembahan itu.

    Ketika seorang tidak bermoral memberi kepada seorang yang bermoral Suatu pemberian yang diperoleh dengan tidak benar dengan tanpa keyakinan, Juga tidak meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Moralitas si penerima memurnikan persembahan itu.

    Ketika seorang tidak bermoral memberi kepada seorang yang tidak bermoral Suatu pemberian yang diperoleh dengan tidak benar dengan tanpa keyakinan, Juga tidak meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Moralitas keduanya tidak memurnikan persembahan itu.

    Ketika seorang bermoral memberi kepada seorang yang bermoral Suatu pemberian yang diperoleh dengan benar dengan penuh keyakinan, Meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Pemberian itu, akan berbuah sepenuhnya.

    Ketika seorang yang tanpa nafsu memberi kepada seorang yang tanpa nafsu. Suatu pemberian yang diperoleh dengan benar dengan penuh keyakinan, Meyakini bahwa buah perbuatan itu adalah besar, Pemberian itu, yang terbaik di antara pemberian-pemberian duniawi.”
Nah,
Sekarang anda bisa memutuskan sendiri SEMURNI APA, SEPENUH APA dan bagaimana MEMURNIKANNYA atau MEMANAGE PEMURNIAN ketika anda TIDAK SEPENUHNYA YAKIN bermoral dan berkarakter baik dan yang terpenting KEPADA SANGHA SELALU lebih BESAR daripada KEPADA individu.

Ada satu kisah menarik tentang lingkup hubungan antara tentang niat baik seorang Penderma,Sangha dan Bhikkhu yang tidak bermoral, sebagai berikut:
    Niat Baik Penderma
    Suatu ketika ada seorang bhikkhu yang tidak disukai oleh kebanyakan umat dan penderma karena kelakuannya yang tidak bermoral. Suatu ketika seorang penderma mengundang Sangha untuk menerima dana, Sangha mengutus bhikkhu tersebut untuk menghadiri undangan penderma itu.

    Bagaimanapun juga, penderma itu tidak merasa kecewa; dia memusatkan perhatiannya kepada Sangha,dengan penuh hormat dia mempersembahkan makanan dan kebutuhan pokok lainnya kepada bhikkhu itu adalah Buddha sendiri, mencuci kakinya ketika datang,

    mempersilakan duduk di tempat harum di bawah kanopi. Karena pikiran penderma itu tertuju penuh kepada seluruh pesamuan, dana yang dibuatnya tergolong sanghika-dana yang mulia, sekalipun penerimanya adalah bhikkhu yang tidak baik.

    Mari kita simak kelanjutannya. Menyaksikan penghormatan yang diterimanya dari sang penderma, seperti disebutkan diatas, bhikkhu itu merasa mendapatkan dermawan yang berbakti kepadanya. Pada sore harinya, bhikkhu itu ingin melakukan suatu perbaikan di viharanya, lalu dia pergi ke pendermanya untuk meminjam sebuah cangkul. Kali ini sang penderma memperlakukannya dengan tidak hormat. Dia menyorongkan cangkul dengan kakinya dan berkata dengan kasar , " Nih!"

    Tetangganya menanyakan kepadanya mengenal dua perlakuan yang berbeda yang telah dilakukannya kepada bhikkhu tersebut. Penderma itu menjawab bahwa pada pagi hari hormatnya tertuju kepada seluruh Sangha dan bukan untuk salah satu bhikkhu tertentu.

    Dia bersikap kasar pada sore hari karena, katanya secara individu bhikkhu tersebut tidak layak menerima penghormatan. Pelajaran yang dapat dipetik, Anda harus memproyeksikan pikiran kepada Sangha secara keseluruhan agar derma Anda dapat digolongkan sebagai sanghika-dana. ["Abhidhamma Sehari-hari"; Ashin Janakabhivamsa; Penerbit Karaniya]
Mulai di bawah ini, berisi beberapa lika-liku hubungan antara Sangha, umat awam, Bhikkhu-bhiku tertentu dan kejadian nyata antara GW VS "Bhante Sudhamaccaro"

Perselisihan antara Bhikkhu dan umat awam
Bhikkhu adalah manusia juga, ia pun masih membuat kesalahan-kesalahan, untuk itu jangan ragu untuk menegurnya namun lakukanlah dengan cara yang patut. Sebagai referensi kejadian inipun terjadi di jaman sang Buddha, dimana umat awam mempunyai persoalan yang tidak enak dan melakukan peneguran serta melaporkan kekeliruan Bhikkhu-bhikku, misalnya:
    Kasus YM UDAYIN vs VISAKHA:
    Suatu saat YM Udayin mendekati seorang wanita muda (anak perempuan dari seorang penyokong YM Udayin yang baru menikah), dan setelah dekat, beliau duduk bersama dengan wanita muda tersebut, seorang pria dan seorang wanita, di suatu tempat tersembunyi, di tempat duduk yang nyaman dan tersendiri, berbicara pada waktu yang tempat, membicarakan Dhamma pada waktu yang tepat pula ... Visakha melihat YM Udayin duduk bersama dengan wanita muda itu, seorang pria dan seorang wanita, di suatu tempat tersembunyi, diatas tempat duduk yang nyaman dan tersendiri. Melihat hal ini, Visakha berkata kepada YM Udayin: "Hal ini tidak patut, yang mulia, hal ini tidak pantas, bahwa seorang guru duduk bersama seorang wanita, seorang pria dan seorang wanita, di tempat tersembunyi, diatas tempat duduk yang nyaman dan tersendiri. Meskipun yang mulia tidak memiliki hasrat untuk hal tersebut (hubungan seksual), orang yang tidak percaya akan sulit untuk diyakinkan."

    Namun YM Udayin tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Visakha sehingga Visakha pun menceritakan hal tersebut kepada para bhikkhu. Para bhikkhu menjadi terganggu dan marah dan kemudian meneruskannya kepada Sang Buddha. Sang Buddha menegur YM Udayin: "Bagaimana mungkin kamu, orang bodoh, duduk bersama dengan wanita, seorang pria dan seorang wanita, di suatu tempat tersembunyi di atas tempat duduk yang nyaman dan tersendiri?....."
Atau contoh yang ada di Dhammapada, CITTA vs BHIKKHU SUDHAMMA:
    Ketika Citta,Perumah tangga mengundang Dana Makan, Bhikkhu Sudhamma, menolak dengan marah dan berkata, “Kamu mengundangku setelah mengundang dua bhikkhu tersebut [Sariputta dan Monggalana]”

    Citta mengulang kembali undangannya, tetapi undangan tersebut ditolak. Walaupun demikian bhikkhu Sudhamma pergi ke rumah Citta pagi-pagi keesokan harinya. Ketika dipersilahkan masuk, Sudhamma menolak dan berkata bahwa dia tidak akan duduk karena dia sedang berpindapatta.

    Ketika dia melihat makanan yang didanakan kepada dua orang murid utama Sang Buddha, dia sangat iri dan tidak dapat menahan kemarahannya. Dia mencaci Citta dan berkata, “Aku tidak ingin tinggal lebih lama di viharamu!” dan meninggalkan rumah tersebut dengan penuh kemarahan.

    Dari sana, dia mengunjungi Sang Buddha dan melaporkan segala yang telah terjadi. Kepadanya, Sang Buddha berkata, “Kamu telah menghina seorang umat awam yang berdana dengan penuh keyakinan dan kemurahan hati. Kamu lebih baik kembali ke sana dan mengakui kesalahanmu.”

    Sudhamma melakukan apa yang telah dikatakan oleh Sang Buddha, tetapi Citta tidak menghiraukan; maka dia kembali menghadap Sang Buddha untuk ke dua kalinya. Sang Buddha, mengetahui bahwa kesombongan Sudhamma telah berkurang pada waktu itu. Kemudian Beliau berkata, “Anakku, seorang bhikkhu yang baik seharusnya tidak terikat dengan berkata, “ini adalah viharaku, ini tempatku, dan ini adalah muridku,” dan sebagainya, dengan berpikir demikian keterikatan dan kesombongan akan bertambah.”
Tentu saja ketidaksetujuan dan ketidaksepakatan SEYOGYANYA dilakukan dengan cara-cara yg lembut. Juga jika melanggar PIDANA,maka andapun dapat melaporkan pada yang berwajib.

Gw punya pengalaman menarik dengan satu oknum yang menyamar jadi Bhikkhu, orang ini di fb pake nick name, "bhante sudhammacaro" (klik!)

Akhir kata sebagai pengingat,
BERJUBAH dan GUNDUL belum tentu BHIKKU, Waspadai BHIKKU pelanggar VINAYA yg sudah di tendang dari KEANGGOTAAN SANGHA namun masih menyamar menjadi BHIKKHU.


Gambar berasal dari sini di sini, di sini, di sini dan di sini


Catatan:

[1] Bagi Bhikkhu yang tidak sakit, terdapat aturan Makan 1x sehari sebelum tengah hari. Aturan itu, telah berulang kali disampaikan Sang Buddha, dalam beberapa sutta, di antaranya:
    DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” – mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

    “Para bhikkhu, Aku MAKAN SEKALI SEHARI [ekāsanabhojanaṃ]. Dengan melakukan demikian, Aku bebas dari penyakit dan kesengsaraan, dan Aku menikmati kediaman yang ringan, kuat, dan nyaman. Marilah, para bhikkhu, MAKAN SEKALI SEHARI [ekāsanabhojanaṃ]. Dengan melakukan demikian, kalian juga akan bebas dari penyakit dan kesengsaraan, dan kalian akan menikmati kediaman yang ringan, kuat, dan nyaman.”

    Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Bhaddāli berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, Aku tidak mau MAKAN SEKALI SEHARI [ekāsanabhojanaṃ]; karena jika aku melakukan demikian, aku akan merasa cemas dan khawatir akan hal itu.”

    “Kalau begitu, Bhaddāli, makanlah pada satu bagian di sana di mana engkau diundang dan bawalah satu bagian untuk dimakan. Dengan memakan demikian, engkau akan memelihara tubuhmu.”

    “Yang Mulia, Aku tidak mau makan dengan cara itu juga; karena jika aku melakukan demikian, aku akan merasa cemas dan khawatir akan hal itu.”

    Kemudian, ketika aturan latihan ini ditetapkan oleh Sang Bhagavā, ketika Sangha para bhikkhu sedang menjalani latihan, Yang Mulia Bhaddāli menyatakan penolakannya [untuk menuruti peraturan]. Kemudian Yang Mulia Bhaddāli tidak menghadap Sang Bhagavā selama tiga bulan [masa vassa], seperti yang terjadi pada seseorang yang tidak memenuhi latihan dalam Pengajaran Sang Guru.

    [..]

    Kemudian Yang Mulia Bhaddāli mendatangi para bhikkhu itu dan saling bertukar sapa dengan mereka, dan ketika ramah-tamah itu berakhir, ia duduk di satu sisi. Ketika ia telah melakukan hal itu, mereka berkata kepadanya: “Teman Bhaddāli, jubah ini dibuat untuk Sang Bhagavā. Setelah jubah ini selesai, di akhir tiga bulan [masa vassa], Sang Bhagavā akan melakukan pengembaraan. Mohon, teman Bhaddāli, perhatikanlah nasihat ini. Jangan biarkan hal ini mempersulitmu kelak.”

    “Baik, teman-teman,” ia menjawab, dan ia menghadap Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, ia duduk di satu sisi dan berkata: “Yang Mulia, suatu pelanggaran menguasaiku, seperti seorang dungu, bingung, dan melakukan kesalahan besar, ketika suatu peraturan latihan ditetapkan oleh Sang Bhagavā, ketika Sangha para bhikkhu menjalani latihan, aku menyatakan penolakanku [untuk menuruti peraturan]. Yang Mulia, sudilah Yang Mulia memaafkan pelanggaranku dilihat seperti demikian demi pengendalian di masa depan.”

    “Tentu saja, Bhaddāli, suatu pelanggaran menguasaimu, seperti seorang dungu, bingung, dan melakukan kesalahan besar, ketika suatu peraturan latihan ditetapkan olehKu, ketika Sangha para bhikkhu menjalani latihan, engkau menyatakan penolakanmu [untuk menuruti peraturan][..] [MN65/Bhaddali sutta]

    ***

    Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu, pernah terjadi suatu peristiwa di mana para bhikkhu memuaskan pikiranKu. Di sini Aku berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut:

    ‘Para bhikkhu, Aku MAKAN SEKALI SEHARI [ekāsanabhojanaṃ]. Dengan melakukan hal itu, Aku terbebas dari penyakit dan penderitaan, dan Aku menikmati kesehatan, kekuatan, dan kediaman yang nyaman. Ayo, para bhikkhu, MAKAN SEKALI SEHARI [ekāsanabhojanaṃ]. Dengan melakukan hal itu, kalian akan terbebas dari penyakit dan penderitaan, dan kalian akan menikmati kesehatan, kekuatan, dan kediaman yang nyaman.’

    Dan Aku tidak perlu terus-menerus memberikan instruksi kepada para bhikkhu itu; Aku hanya perlu membangkitkan perhatian dalam diri mereka. Misalkan ada sebuah kereta di tanah yang datar di persimpangan jalan, ditarik oleh kuda-kuda berdarah murni, menunggu dengan tongkat kendali siap untuk digunakan, sehingga seorang pelatih terampil, seorang kusir dari kuda-kuda yang harus dijinakkan, dapat menaikinya, dan memegang tali kekang dengan tangan kirinya dan tongkat kendali di tangan kanannya, dapat menjalankannya maju dan mundur melalui jalan manapun yang ia sukai.

    Demikian pula, Aku tidak perlu terus-menerus memberikan instruksi kepada para bhikkhu itu; Aku hanya perlu membangkitkan perhatian dalam diri mereka.

    “Oleh karena itu, para bhikkhu, tinggalkanlah apa yang tidak bermanfaat dan tekunilah kondisi-kondisi yang bermanfaat, karena itu adalah bagaimana kalian akan mengalami kemajuan, peningkatan dan pemenuhan dalam Dhamma dan Disiplin ini.

    Misalkan terdapat hutan besar pepohonan sāla di dekat sebuah desa atau kota, dan hutan itu terganggu oleh rerumputan jarak, dan seseorang datang menginginkan kebaikan, kesejahteraan, dan perlindungan. Ia akan menebang dan menyingkirkan anak-anak pohon yang bengkok yang merampas getah, dan ia akan membersihkan bagian dalam hutan dan memelihara anak-anak pohon yang lurus dan berbentuk baik, sehingga, hutan pohon-sāla itu akan mengalami kemajuan, peningkatan dan pemenuhan.

    Demikian pula, para bhikkhu, tinggalkanlah apa yang tidak bermanfaat dan tekunilah kondisi-kondisi yang bermanfaat, karena itu adalah bagaimana kalian akan mengalami kemajuan, peningkatan dan pemenuhan dalam Dhamma dan Disiplin ini.[MN21/Kakacūpama Sutta]

    ****

    Bhikkhu, para murid ariya di dalam sasana ini:
    Para Arahat, sepanjang hidup[ Yāvajīvaṃ] makan 1 kali sehari [ekabhattikā], tidak di malam hari [rattūparatā], menahan Diri makan di waktu yang salah [virataṃ vikālabhojanā].
    "Kamu semua makan hanya 1x dan tidak di malam hari, menahan diri makan di waktu yang salah. Selama siang dan malam, aturan ini, telah engkau ketahui di ikuti para arahan dan Uposatha akan dijalankan oleh kalian. Ini adalah sila ke-6 dari Uposatha [AN 8.41/Uposatha Sutta]

    ****

    Para Arahat, sepanjang hidup[ Yāvajīvaṃ] makan 1 kali sehari [ekabhattikā], tidak di malam hari [rattūparatā], menahan Diri makan di waktu yang salah [virataṃ vikālabhojanā].
    Aku pun siang dan malam ini akan makan hanya sekali, tidak makan pada malam hari, menjauhkan Diri dari makan pada waktu yang salah .
    Dengan cara demikianlah Aku mengikuti jejak Para Arahat, dan menjalankan Uposatha. Inilah Sila Ke-6 yang dijalankan. [AN 3.70/Uposatha Sutta]

    ****

    Perumah tangga Gavesin dan 500 Pengikutnya di jaman Kassapa Buddha: 'Mulai sejak saat ini, Aku ingin kalian tau (pada 500 pengikutnya) aku adalah orang yang makan 1 kali sehari [ekabhattikaṃ], tidak di malam hari [rattūparataṃ], menahan diri makan di waktu yang salah [virataṃ vikālabhojanā]' [AN 3.180/Gavesin Sutta]

    ****

    Mereka para samana dan brahmin yang makan 1 x sehari, tidak di malam hari, menahan diri makan di waktu yang salah [AN 5.228/Ussura-bhatta sutta]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Translate